TIPE-TIPE KONSELING DAN PSIKOTERAPI
Bertemu lagi dengan saya, dikesempatan kali ini saya akan mereview materi tentang Tipe-tipe Konseling dan Psikoterapiπ
Simak yaa!!!
TIPE-TIPE KONSELING
KONSELING INDIVIDU
Menurut pendapat Sofyan Willis “Konseling individu adalah pertemuan konselor dengan klien secara individual, dimana terjadi hubungan konseling yang bernuansa rapport dan konselor berupaya memberikan bantuan untuk pengembangan pribadi klien dan klien dapat mengantisipasi masalah-masalah yang dihadapinnya”. Diperkuat oleh Tohirin, konseling individu bisa diartikan proses membatu dari konselor kepada klien untuk mendapatkan apa yang menjadi tujuan masalah dan upaya mengembangkan pribadi klien dalam menjadikan diri klien yang bisa beradaptasi dan dapat melakukan penyesuaian dengan lingkungan sosial dengan normal.
TUJUAN : Terciptanya pribadi individu yang dapat menjalankan kehidupan sehari-harinya dengan baik serta menghadapi dan mampu untuk mengentaskan masalah yang mengganggu kehidupannya baik lingkungan keluarga maupun sosial. Dengan kata lain, konseling individu bertujuan untuk mengentaskan masalah yang dialami klien.
PROSES KONSELING INDIVIDU
π Tahapan Pengantaran
Tahapan pertama ini dimulai sejak awal interkasi antara konselor dan subjek sasaran layanan atau kegiatan pendukung.
π Tahap Penjajakan
Tahap ini pertama-tama dimaksudkan untuk mengetahui efek pengantaran terhadap diri subjek sasaran layanan/pendukung.
π Tahap Penafsiran
Tahap ketiga ini pada dasarnya adalah memberikan makna, secara lebih jauh bahkan melakukan kajian mendalam terhadap informasi dan data yang dihasilkan dalam tahap penjajakan.
π Tahap Pembinaan
Pada tahap keempat ditekankan pembinaan apa yang perlu dikembangkan pada diri sasaran layanan terarah pada peran nyata yang perlu dilaksanakan oleh subjek tersebut terkait dengan permsalahan.
π Penilaian
Tahap penilaian dilakukan untuk mengetahui capaian hasil layanan
KONSELING KELOMPOK
Konseling kelompok pada dasarnya adalah konseling perorangan yang dilaksanakan di dalam suasana kelompok. Dimana ada konselor dan ada klien, yaitu para anggota kelompok (yang jumlahnya minimal dua orang). Dimana juga ada pengungkapan dan pemahaman masalah klien, penelusuran sebab-sebab timbulnya masalah, upaya pemecahan masalah, kegiatan evaluasi dan tindak lanjut.
TUJUAN : Tujuan konseling kelompok adalah berkembangnya kemampuan sosialisasi siswa, khususnya kemampuan berkomunikasinya. Melalui konseling kelompok hal-hal yang dapat menghambat atau mengganggu sosialisasi dan komunikasi siswa diungkap dan didinamikakan melalui berbagai teknik, sehingga kemampuan sosialisasi dan berkomunikasi siswa berkembang secara optimal.
TAHAPAN KONSELING KELOMPOK
π Tahap awal kelompok
Proses utama selama tahap awal adalah orientasi dan eksplorasi. Pada awalnya tahap ini akan diwarnai keraguan dan kekhawatiran, namun juga harapan dari peserta. Namun apabila konselor mampu memfasilitasi kondisi tersebut, tahap ini akan memunculkan kepercayaan terhadap kelompok. Langkah-langkah pada tahap awal kelompok adalah: Menerima secara terbuka dan mengucapkan terima kasih, Berdoa, Menjelaskan pengertian konseling kelompok, Menjelaskan tujuan konseling kelompok, Menjelaskan cara pelaksanaan konseling kelompok, Menjelaskan asas-asas konseling kelompok dan Melaksanakan perkenalan dilanjutkan rangkaian nama
π Tahap Peralihan
Tujuan tahap ini adalah membangun iklim saling percaya yang mendorong anggota menghadapi rasa takut yang muncul pada tahap awal. Konselor perlu memahami karakterisik dan dinamikayang terjadi pada tahap transisi. Langkah-langkah pada tahap peralihan: Menjelaskan kembali kegiatan konseling kelompok, Tanya jawab tentang kesiapan anggota untuk kegiatan lebih lanjut, Mengenali suasana apabila anggota secara keseluruhan atau sebagian belum siap untuk memasuki tahap berikutnya dan mengatasi suasana tersebut.
π Tahap Kegiatan
Pada tahap ini ada proses penggalian permasalahan yang mendalam dan tindakan yang efektif. Menjelaskan masalah pribadi yang hendak dikemukakan oleh anggota kelompok.
π Tahap Pengakhiran
Pada tahap ini pelaksanaan konseling ditandai dengan anggota kelompok mulai melakukan perubahan tingkah laku di dalam kelompok.
TIPE-TIPE PSIKOTERAPI
TERAPI PSIKOANALISIS
Terapi psikoanalisis (psychonalysis teraphy) adalah teknik atau metode pengobatan yang dilakukan oleh terapis dengan cara menggali permasalahan dan pengalaman yang direpresnya selama masa kecil serta memunculkan dorongan- dorongan yang tidak disadarinya selama ini.
TUJUAN : Tujuan konseling psikoanalisis adalah membentuk kembali struktur karakter individu dengan membuat yang tidak sadar menjadi sadar dalam diri klien.
TEKNIK TERAPI PSIKOANALISIS
π Asosiasi Bebas
Asosiasi bebas adalah teknik yang memberi kebebasan pada klien untuk mengatakan apa saja perasaan, pemikiran dan renungan yang ada dalam pikiran klien tanpa memandang baik buruknya atau logis tidaknya sehingga klien dapat terbuka dalam mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya.
π Interpretasi (Penafsiran)
Interpretasi adalah prosedur dasar yang digunakan dalam analisis asosiasi bebas, analisis mimpi, analisis resistensi, dan analisis transparansi. Prosedurnya terdiri atas penetapan analisis, penjelasan, dan bahkan mengajar klien tentang makna perilaku yang dimanifestasikan dalam mimpi, asosiasi bebas, resisten dan hubungan terapeutik itu sendiri.
π Analisis mimpi
Dalam analisis mimpi ini, mimpi dipandang sebagai jalan utama menuju ke alam tak sadar. Karena mimpi juga diartikan sebagai pemuasan yang melambangkan dari keinginan-keinginan dan sebagian besar isinya mencerminkan pengalaman-pengalaman masa kanak-kanak awal. Dari analisis mimpi tersebut konselor dapat memahami konflik yang dihadapi oleh klien. Teknik ini membuka hal- hal yang tidak disadari dan memberi kesempatan pada klien untuk masalah- masalah yang belum terpecahkan.
π Analisis Resistensi
Resistensi adalah sesuatu yang melawan kelangsungan terapi dan mencegah klien mengemukakan bahan yang tidak disadari. Selama asosiasi bebas dan analisis mimpi, klien dapat menunjukkan ketidaksediaan untuk menghubungkan pikiran, perasaan, dan pengalaman tertentu. Freud memandang resistensi sebagai suatu dinamika yang tidak disadari yang mendorong seseorang untuk mempertahankan terhadap kecemasan. Hal ini akan timbul bila orang menjadi sadar terhadap dorongan dan perasaan yang tertekan.
π Analisis Transferensi
Menurut Freud, setelah pasien mengetahui arti sesungguhnya dari hubungan transferensi dengan konselornya, pasien akan memperoleh pemahaman atas pengalaman-pengalaman dan perasaan masa lalunya, serta menghubungkan pengalaman-pengalaman dan perasaan-perasaan masa lalunya tersebut dengan kesulitan-kesulitan yang dialaminya sekarang.
TERAPI BEHAVIORAL
Terapi perilaku (behaviour) adalah penerapan aneka ragam teknik dan prosedur yang berakar pada berbagai teori tentang belajar. Ia menyatakan penerapan yang sistematis prinsip- prinsip belajar pada perubahan tingkah laku ke arah cara-cara yang lebih adaptif. Terapi Perilaku ialah semua tingkah laku atau tindakan seseorang yang dilihat dari situasi atau stimulusnya untuk membantu individu mengubah perilakunya agar dapat memecahkan masalahnya baik dilihat, didengar atau dirasakan oleh orang lain atau diri sendiri. Dapat disimpulkan bahwa terapi perilaku ialah penerapan prinsip belajar yang berfokus pada bagaimana orang-orang belajar mengubah perilaku dan meningkatkan fungsi untuk memecahkan masalah perilaku manusia dan kondisi-kondisi apa saja yang menentukan tingkah laku mereka.
TUJUAN : Terapi Behavioral diarahkan pada tujuan-tujuan memperoleh tingkah laku baru. Penghapusan tingkah laku yang maladaptif, serta memperkuat dan mempertahankan tingkah laku yang diinginkan. Jadi tujuan konseling behaviour adalah untuk memperoleh tingkah laku baru, mengeliminasi perilaku yang maladaptif dan memperkuat serta mempertahankan perilaku yang diinginkan dalam jangka waktu yang lama. Adapun tujuan umumnya yaitu menciptakan kondisi baru untuk belajar. Dengan asumi bahwa pembelajaran dapat memperbaiki masalah perilaku.
JENIS-JENIS TERAPI BEHAVIORAL :
π Terapi perilaku kognitif, yaitu metode pengobatan yang disasarkan pada pikiran dan perasaan yang menyebabkan perilaku tertentu dan gangguan jiwa.
π Analisis perilaku terapan, yaitu metode pengkondisian yang menggunakan cara positif untuk mengubah perilaku klien.
π Teori pembelajaran sosial.
TAHAPAN PELAKSANAAN TERAPI BEHAVIORAL
π Melakukan Asesmen
Tahap ini bertujuan untuk menentukan apa yang dilakukan konseling padasatini. Asesmen dilakukan adalah aktivitas nayat, perasaan dan pikiran konseling.
π Menetapkan Tujuan (Goal Setting)
Konselor dan konseling menentukan tujuan konseling seuai dengan kesepakatan bersama berdasarkan informasi yang telah disusun dan dianalisis.
πImplementasi Teknik
Setelah tujuan konseling dirumuskan, konselor dan konseling menentukan strategibelajar yangterbaik untuk mmbantu konseling mencapai perubahan ingkah laku yang diinginkan.
π Evaluasi dan Pengakhiran
Evaluasi behavioral merupakan proses yang berkesinambungan. Evaluasi dibuat atas dasar apa yang konseling perbuat. Tingkah laku konseling digunakan sebagai dasar untuk mengevaluasi efektivitas konselor dan efektivitas tertentu dari teknik yang digunakan.
π Feedback
Yaitu memberikan dan menganalisis umpan balikuntuk memperbaiki dan meningkatkan proses konseling.
TERAPI CLIENT CENTERED
Menurut Rogers yang dikutip oleh Gerald Corey menyebutkan bahwa terapi client centered merupakan teknik konseling dimana yang paling berperan adalah klien sendiri, klien dibiarkan untuk menemukan solusi mereka sendiri terhadap masalah yang tengah mereka hadapi. Hal ini memberikan pengertian bahwa klien dipandang sebagai partner dan konselor hanya sebagai pendorong dan pencipta situasi yang memungkinkan klien untuk bisa berkembang sendiri.
TUJUAN : Menciptakan suasana yang kondusif bagi klien untuk mengeksplorasi diri sehingga dapat mengenal hambatan pertumbuhannya, membantu klien agar dapat bergerak kearah keterbukaan, kepercayaan yang lebih besar kepada dirinya, keinginan untuk menjadi pribadi yang mandiri.
TEKNIK TERAPI CLIENT CENTERED
π Konselor menciptakan suasana komunikasi antar pribadi yang merealisasikan segala kondisi.
π Konselor menjadi seorang pendengar yang sabar dan peka, yang meyakinkan dia diterima dan dipahami.
πKonselor memungkinkan klien untuk mengungkapkan seluruh perasaannya secara jujur, lebih memahami diri sendiri dan mengembangkan suatu tujuan perubahan dalam diri sendiri dan perilakunya.
TERAPI GESTALT
Terapi Gestalt dikembangkan oleh Frederick Perls adalah bentuk terapi eksistensial yang berpijak pada premis bahwa individu-individu harus menemukan jalan hidupnya sendiri dan menerima tanggung jawab pribadijika mereka berharap mencapai kematangan, karena bekerja terutama diatas prinsip kesadaran. Terapi gestalt berfokus pada apa dan bagaimananya tingkah laku dan pengalaman di sini-dan-sekarang dengan memadukan bagian-baian kepribadian yang terpecah dan tak diketahui.
TUJUAN : Tujuan terapi gestalt adalah membantu klien agar menemukan pusat dirinya. Perls mengatakan “jika anda berpusat pada diri anda sendiri, maka anda tidak harus disesuaikan lagi, maka apapun yang lewat dan diasimilasi oleh anda,anda bisa memahaminya dan anda berhubungan dengan apapun yang terjadi.
SASARAN UTAMA TERAPI GESTALT
Sasaran utama terapi gestalt adalah pencapaian kesadaran. Kesadaran dengan dan pada dirinya sendiri, dipandnag kuratif. Tanpa kesadaran, klien tidak memiliki alat untuk mengubah kepribadiannya. Dengan kesadaran, klien memiliki kesanggupan untuk menghadapi dan menerima bagian-bagian keberadaan yang diingkarinya serta untuk berhubungan dengan pengalaman subjektif dan kenyataan. Klien bisa memilih suatu kesatuan dan menyeluruh. Apabila klien menjadi sadar, maka urusannya yang tidak selesai akan selalu muncul sehingga bisa ditangani dalam terapi.
TEKNIK TERAPI GESTALT
π Permainan-permainan dialog
π Membuat lingkaran
π Urusan yang tak selesai
π “Saya memikul tanggung jawab”
π “Saya memiliki suatu rahasia
π Bermain proyeksi
π Pembalikan
π Irama kontak dan penarikan
TERAPI RASIONAL EMOTIF
Terapi Rasional Emotif adalah sistem psikoterapi yang mengajari individu bagaimana sistem keyakinannya menentukan yang dirasakan dan dilakukannya pada berbagai peristiwa dalam kehidupan. Awalnya terapi ini bernama terapi rasional, namun karena banyak memperoleh anggapan keliru sehingga pada tahun 1961 diubah namanya menjadi terapi rasional emotif. Ellis menggabungkan terapi humanistik, filosofis, dan behavioral menjadi terapi rasional emotif yang disingkat (TRE).
TUJUAN : Memperbaiki dan mengubah segala perilaku, sikap, persepsi, cara berpikir, keyakinan serta pandangan-pandangan yang irasional dan tidak logis menjadi rasional dan logis agar klien dapat mengembangkan dirinya, menghilangkan gangguan emosional yang merusak seperti rasa takut, rasa bersalah, rasa berdosa, rasa cemas, merasa was-was, rasa marah, untuk membangun Self Interest (minat), Self Direction (pengendalian/ pengarahan diri), Tolerance (toleransi), Acceptance of Uncertainty (kesediaan menerima ketidakpastian), Fleksibel, Commitment (komitmen terhadap sesuatu), Scientific Thinking (berpikir logis), Risk Taking (keberanian mengambil resiko), dan Self Acceptance (penerimaan diri) klien.
LANGKAH-LANGKAH TERAPI RASIONAL EMOTIF
πTerapis berusaha menunjukkan bahwa cara berfikir klien harus logis kemudian membantu bagaimana dan mengapa klien sampai pada cara seperti itu, menunjukkan pola hubungan antara pikiran logis dan perasaan yang tidak bahagia atau dengan gangguan emosi yang di alami nya.
π Menunjukkan kepada klien bahwa ia mampu mempertahankan perilakunya maka akan terganggu dan cara pikirnya yang tidak logis inilah yang menyebabkan masih adanya gangguan sebagaimana yang di rasakan.
π Bertujuan mengubah cara berfikir klien dengan membuang cara berfikir yang tidak logis.
πDalam hal ini konselor menugaskan klien untuk mencoba melakukan tindakan tertentu dalam situasi nyata.
TEKNIK TERAPI RASIONAL EMOTIF
π Teknik emotif
Teknik emotif yaitu teknik untuk mengubah emosi klien. Ini sepenuhnya melibatkan emosi klien saat ia melawan keyakinan-keyakinannya yang irasional. Teknik ini seperti; Rational Emotive Imagery, Humor, Imitasi, Assertive adaptive, Role Playing, Shame-attacking, Force and Vigor.
π Teknik kognitif
Teknik kognitif, yaitu teknik untuk membantu klien berpikir mengenai pemikirannya dengan cara yang lebih konstruktif. Klien diajarkan untuk memeriksa bukti-bukti yang mendukung dan menentang keyakinan-keyakinan irasionalnya dengan menggunakan tiga kriteria utama: logika, realisme dan kemanfaatan. Teknik ini seperti; menyingkirkan kepercayaan tidak rasional, tugasan Kognitif, Changing One’s Langguage, pengajaran, persuasif.
πTeknik tingkah laku
Teknik tingkah laku, yaitu teknik yang digunakan khusus untuk mengubah tingkah laku. Teknik ini dinegosiasikan dengan klien atas dasar sifatnya yang menentang, tetapi tidak sampai membuat kewalahan, yaitu, tugas-tugas yang cukup menstimulasi untuk mewujudkan perubahan terapeutik, namun tidak terlalu menakutkan karena justru akan menghambat menjalankan tugas-tugas tersebut. Teknik ini seperti teknik peneguhan (Reinforcement), desintisasi bersistematik, teknik Modelling, teknik releksasi.
TERAPI REALITAS
Reality therapy adalah pendekatan kombinasi psikoterapi dan konseling. Dikembangkan oleh William Glasser pada tahun 1960, reality therapy dianggap variasi dari Cognitive Behavioral Therapy (Seligman L &Reichenberg, 2010). Reality therapy yang dicetuskan oleh William Glasser ini didasarkan pada teori yang menekankan bahwa manusia merupakan makhluk sosial dan setiap perilaku yang dikerjakan ada tujuannya. Oleh karena itu manusia tergantung dari perilaku mereka sendiri dan bukan karena keluarga mereka, lingkungan mereka atau konflik saat usia anak-anak. Sebaliknya perilaku dipandang sebagai pilihan, dan penggunaan secara luas untuk terapi konseling, evaluasi serta pendidikan dimana reality therapy berusaha untuk menghindari pemaksaan dan hukuman serta mengajarkan tanggung jawab (Wubbolding, 2002).
KARAKTERISTIK TERAPI REALITAS
π Penekanan pada pilihan dan tanggung jawab
Jika kita memilih sesuatu untuk kita kerjakan, kita harus bertanggung jawab terhadap apa yang kita pilih. Bukan artinya kita harus menyalahkan atau menghukum kecuali kita melanggar hukum tetapi ini artinya terapis jangan sampai kehilangan pandangan terhadap kenyataan bahwa klien bertanggung jawab terhadap apa yang mereka kerjakan.
π Menolak Transference
Glasser berpendapat transferensi merupakan cara bagi terapis dan klien menghindari untuk menjadi diri mereka sendiri dan rasa memiliki terhadap apa yang mereka kerjakan saat ini adalah benar. Terapis menempuh cara beradanya yang sejati bahwa mereka menjadi diri sendiri tidak memainkan peran sebagai ayah, ibu atau siapapun bagi klien.
π Menjaga Terapi untuk saat ini
Pendapat Glasser apapun kesalahan yang kita buat di masa lalu tidak berhubungan untuk saat ini karena masa lalu itu telah tetap dan tidak bisa diubah. Kita hanya dapat memenuhi kebutuhan kita saat ini.Terapis realita tidak sepenuhnya menolak masa lalu (Corey, 2005).
π Menghindari fokus pada gejala
Glasser (2003) berpendapat orang-orang yang memiliki gejala, mereka hanya akan bebas dari gejala tersebut bila mereka menemukan kebahagiaan. Apakah orang-orang yang tertekan dan menderita mereka cenderung berfikir apakah mereka merasakan kebahagiaan. Mereka segan menerima kenyataan atas penderitaan dan ini haknya atas keseluruhan perilaku yang dipilih. Mendapatkan dua kisaran rintangan diatas pada terapi dan focus masalah saat ini dapat memperpendek proses sebagian besar terapi.
πTantangan gambaran sakit mental tradisional
Choice theory menolak pikiran tradisional bahwa orang dengan problem gejala fisik dan psikologis dikatakan sakit mental. Glasser melukiskan gambaran psikiater sebagai seorang yang mendiagnosa individu secara luas dengan sakit mental dan psikiater berusaha meyakinkan pasien-pasien bahwa patologi dari otak merupakan penyebab masalah mereka. Kemudian psikiater mengobati pasien- pasien tersebut dengan memberi resep obat-obat psikiatri. Glasser mengkritik psikiatri tradisional yang cenderung mengecilkan arti terhadap psikoterapi dan gagasan tentang sesuatu dimana pasien dengan gejala dapat melakukan untuk mereka sendiri agar gejala-gejala tersebut berkurang dan menjadi tidak aktif.
TERAPI KELUARGA
Terapi keluarga mempunyai pengertian sebagai terapi yang berfokus pada interaksi antar anggota keluarga, bukan lagi suatu terapi yang berfokus pada perorangan. Terapi keluarga diperlukan karena terapi yang berpusat pada satu pribadi saja tidak akan menyelesaikan persoalan dalam keluarga secara menyeluruh. Terapi keluarga mempunyai perbedaan yang nyata dengan terapi lain yang bersifat perorangan (Holdert & Ploegmakers-Burg, 2013).
TEKNIK MENDASAR TERAPI KELUARGA
Teknik-teknik mendasar dalam terapi keluarga biasanya berupa teknik untuk menetapkan hubungan yang saling percaya dengan keluarga. Bila pada masa-masa lalu, seorang terapis mempunyai hubungan terpisah dengan keluarga yang menjadi kliennya, perannya lebih banyak menjadi seorang “ahli” mengenai keluarga maka pada perkembangan terakhir, seorang terapis keluarga mengembangkan sistem “keluarga dan terapis”. Ini berarti, terapis itu bukan lagi berperan sebagai seorang “ahli” namun dia berada dalam konteks bersama keluarga yang menjadi kliennya. Terapis menjadi sosok yang juga ikut mengalami dan merasakan dinamika keluarga. Bersama-sama dengan keluarga yang menjadi kliennya, dia menyusun genogram mereka.
Sekian review dari saya, Semoga Bermanfaat untuk kalian semua


Komentar
Posting Komentar