MICRO SKILL (KETERAMPILAN) DAN TAHAPAN PROSES KONSELING

 


Hallo...

Bertemu lagi dengan saya, dikesempatan kali ini saya akan mereview materi tentang microskill dan tahapan proses konseling😊


Simak yaa!!!


TAHAPAN PROSES KONSELING

Pada dasarnya konseling merupakan hubungan antara konselor dan klien yang sifatnya terapeutis. Proses terapeutis menekankan pada pengembangan hubungan terapeutis dengan klien dan mengembangkan tindakan strategis yang efektif untuk memfasilitasi terjadinya perubahan. Untuk memfasilitasi terjadinya perubahan maka proses konseling memiliki tahap-tahap yang sistematis. Secara umum proses konseling memiliki empat tahap. Menurut Brammer, Abrego dan Shostrom (1993) dalam Lesmana (2006) tahaptahap dalam proses konseling sebagai berikut:

πŸ’™ Membangun Hubungan

Tujuan dari membangun hubungan dalam tahap pertama ini adalah agar klien dapat menjelaskan masalahnya, keprihatinan yang dimilikinya, kesusahankesusahannya, serta alasannya datang pada konselor. Sangat perlu membangun hubungan yang positif, berlandaskan rasa percaya, keterbukaan dan kejujuran berekspresi. Konselor harus menunjukkan bahwa dirinya dapat dipercaya dan kompeten, bahwa ia adalah seorang yang kompeten untuk membantu kliennya. Sasaran berikutnya adalah untuk menentukan sampai sejauh mana klien mengenali kebutuhannya untuk mendapatkan bantuan dan kesediaannya melakukan komitmen. Konseling tidak hasilnya tanpa ada kesediaan dan komitmen dari klien.

πŸ’™ Identifikasi dan Penilaian Masalah

Dalam tahap ini konselor mendiskusikan dengan klien apa yang mereka ingin dapatkan dari proses konseling ini, terutama bila pengungkapan klien tentang masalahnya dilakukan secara samar-samar. Didiskusikan sasaran-sasaran spesifik dan tingkah laku apa yang ingin diubah. Intinya dalam hal ini konselor melakukakan eksplorasi dan melakukan ”diagnosis” apa masalah dan hasil seperti apa yang diharapkan dari konseling.

πŸ’™ Memfasilitasi Perubahan Terapeutis

Dalam tahap ini konselor mencarinstrategi dan intervensi yang dapat memudahkan terjadinya perubahan. Sasaran dan strategi terutama ditentukan oleh sifat masalah, gaya dan pendekatan konseling yang konselor anut, keinginan klien maupun gaya komunikasinya. Konselor dalam tahap ini memikirkan alternatif, melakukan evaluasi dan kemungkinan konsekuensi dari berbagai alternatif, rencana tindakan. Hal ini tentunya bekerjasama dengan klien. Jadi konselor bukan tempat pembuat alternatif, pembuat keputusan namun lebih kepada memfasilitasi, memberikan wacana-wacana baru bagi pemecahan masalah kliennya.

πŸ’™ Evaluasi dan Terminasi

Dalam tahap ini konselor bersama klien mengevaluasi terhadap hasil konseling yang telah dilakukan. Indikatornya adalah sampai sejauh mana sasaran tercapai, apakah proses konseling membantu klien atau tidak. Tahap ini ditutup dengan terminasi. Dalam terminasi konselor bersama klien menyimpulkan semua kegiatan yang sudah dilalui dalam proses konseling. Selain itu konselor dapat membuat kemungkinan tindak lanjut terjadinya proses konseling kembali ataupun memberikan kemungkinan referal pada pihak lain yang lebih ahli yang berkaitan dengan masalah klien.


 

MICRO SKILL (KETERAMPILAN)

Keterampilan Mikro konseling adalah keterampilan – keterampilan khusus yang harus di  kuasai oleh seorang konselor, karena jika digunakan secara tepat dapat sangat meningkatkan kualitas dan keefektifan dari proses konseling.

πŸ’™ Client Observation Skill

Keterampilan konselor untuk mengamati klien, utamanya dapat menemukan ketidaksinkronan antara gesture dan percakapan.

Misal : Observasi di nada suara, sikap tubuh, gerak-gerik, tutur bahasa, suasana hati, dan perilaku berbeda.

πŸ’™ Attending Behaviour

Disebut juga perilaku menghampiri klien mencakup komponen kontak mata, bahasa badan, bahasa lisan, mendengarkan. Attending yang baik dapat meningkatkan harga diri klien (merasa diterima dan dihargai), awal dan proses komunikasi, menciptakan suasana aman, mempermudah ekspresi perasaan klien secara bebas.

πŸ’™ Questioning

Open Questioning :

-         Pertanyaan yang menuntut jawaban secara terbuka oleh klien.

-        Konselor perlu menggunakan pertanyaan terbuka jika menghadapi klien yang   tertutup           atau diam.

-       Kata awal yang mungkin membuka pertanyaan adalah : Mengapa, dapatkah,   bolehkah,         bagaimana, dll.

Teknik bertanya untuk membuka pertanyaan bertujuan agar konselor trampil menggunakan pertanyaan yang memungkinkan munculnya pernyataan-pernyataan baru, memulai pembicaraan, meminta penjelasan lebih lanjut, memberikan contoh dan memusatkan perhatian kepada klien.

Close Questioning :

Merupakan jawaban pasti dan biasanya bersifat faktual (biasanya jawaban ya atau tidak). Contoh : “ Apakah anda merasa berhasil atau tidak disekolah ini?”

πŸ’™ Clarifying

Mengajukan pertanyaan sampai diperoleh gambaran yang jelas.

πŸ’™ Paraphrasing

Menyampaikan dengan kata-kata sendiri apa yang ditangkapnya dari pesan yang disampaikan oleh klien.

πŸ’™ Reflection

Mengekspresikan kembali perasaan, pikiran, sikap dan pengalaman klien dalam usaha untuk membangun hubungan.

πŸ’™ Kemampuan Empati

Bertujuan untuk menempatkan diri dalam pikiran dan perasaan orang lain (internal frame of preference), seolah-olah mampu merasakan dan memahami keadaan  emosionalnya.

Tahap Empati

Primary Empathy :

-          “Kelihatannya anda cemas sekali...”

-          “Tampaknya ryan sedih sekali ya...”

-          “Saya dapat merasakan anda sangat bingung saat ini...”

Advanced Accurate Empathy :

-          “Seandainya saya jadi Geby... Sayapun akan merasakan sedih-bingung-marah atas apa yang terjadi...”

πŸ’™ Encouragement

Upaya utama konselor adalah agar konseli selalu terlibat dalam pembicaraan dan dirinya terbuka, sehingga pembicaraan mencapai tujuan. Dorongan minimal adalah suatu dorongan langsung yang singkat terhadap apa yang telah dikatakan konseli. Respon yang diberikan konselor sesedikit mungkin dengan tujuan memberikan kesempatan kepada konseli berbicara lanjut. Misalnya dengan mengatakan terus, lalu, ya dan hm, dapat juga dengan isyarat anggukan.., dll.

πŸ’™ Confrontation

Dilakukan ketika konselor menemukan pesan yang tidak kongruen antara pikiran, perasaan dan perilaku. Bertujuan untuk meningkatkan self-awareness klien. Contoh : “Tadi anda bilang kalau tidak suka dengan sepupu anda tapi anda masih juga sering keluar dan minta ditraktir makan dengannya”

πŸ’™ Focusing

Fokus membantu klien untuk memusatkan perhatian pada pokok pembicaraan, ada beberapa fokus yang dapat dilakukan oleh konselor. Konselor yang efektif harus harus mampu membuat fokus melalui perhatiannya yang terseleksi terhadap pembicaraan dengan klien. Fokus akan membantu klien untuk memusatkan perhatiannya pada pokok pembicaraan. Misalnya dengan mengatakan : “Apakah tidak sebaiknya jika pokok pembicaraan kita berkisar dulu soal hubungan anda dengan orang tua yang kurang harmonis”

πŸ’™ Influencing

Keterampilan Konselor untuk mempengaruhi klien dalam proses mengambil keputusan yang lebih adaptif.

πŸ’™ Leading

Peranan konselor untuk mengarahkan pemikiran atau mendorong klien kedalam ucapan konselor (Charness:1949). Nilai dari leading adalah supaya konselor menahan atau mendelegasikan sejumlah tanggung jawab untuk membicarakan konselor-klien dan untuk lebih membangkitkan respon klien.

πŸ’™ Giving Information

Informasi yang dapat membantu klien, misalnya ketersediaan social support, community support, aktivitas-aktivitas, dll. Bertujuan menjadi sumber pertimbangan bagi klien untuk memilih alternatif penyelesaian masalah atau perilaku (tetap yang mengambil keputusan adalah klien).

πŸ’™ Penggunaan Humor

Humor dapat membantu menghidupkan percakapan. Pastikan humor tidak bersifat kasar atau menghina. Humor disesuaikan dengan konteks dan kebutuhan (tidak “garing”).

πŸ’™ Summarize/menyimpulkan

Keterampilan ini mirip dengan paraphrasing namun intensitasnya lebih jarang (biasanya) pernyataannya lebih panjang. Bertujuan untuk merangkum apa yang disampaikan oleh klien dan meyimpulkan isi sesi konseling. Dapat dilakukan diakhir sesi konseling.

 

 Sekian review dari saya, Semoga Bermanfaat untuk kalian semua 

Terima Kasih😊

 


Komentar