MICRO SKILL (KETERAMPILAN) DAN TAHAPAN PROSES KONSELING
Bertemu lagi dengan saya, dikesempatan kali ini saya akan mereview materi tentang microskill dan tahapan proses konselingπ
Simak yaa!!!
TAHAPAN PROSES KONSELING
Pada
dasarnya konseling merupakan hubungan antara konselor dan klien yang sifatnya
terapeutis. Proses terapeutis menekankan pada pengembangan hubungan terapeutis
dengan klien dan mengembangkan tindakan strategis yang efektif untuk
memfasilitasi terjadinya perubahan. Untuk memfasilitasi terjadinya perubahan
maka proses konseling memiliki tahap-tahap yang sistematis. Secara umum proses
konseling memiliki empat tahap. Menurut Brammer, Abrego dan Shostrom (1993)
dalam Lesmana (2006) tahaptahap dalam proses konseling sebagai berikut:
π Membangun
Hubungan
Tujuan
dari membangun hubungan dalam tahap pertama ini adalah agar klien dapat
menjelaskan masalahnya, keprihatinan yang dimilikinya, kesusahankesusahannya,
serta alasannya datang pada konselor. Sangat perlu membangun hubungan yang
positif, berlandaskan rasa percaya, keterbukaan dan kejujuran berekspresi.
Konselor harus menunjukkan bahwa dirinya dapat dipercaya dan kompeten, bahwa ia
adalah seorang yang kompeten untuk membantu kliennya. Sasaran berikutnya adalah
untuk menentukan sampai sejauh mana klien mengenali kebutuhannya untuk
mendapatkan bantuan dan kesediaannya melakukan komitmen. Konseling tidak
hasilnya tanpa ada kesediaan dan komitmen dari klien.
π Identifikasi dan Penilaian Masalah
Dalam tahap ini konselor mendiskusikan dengan klien apa yang mereka ingin dapatkan dari proses konseling ini, terutama bila pengungkapan klien tentang masalahnya dilakukan secara samar-samar. Didiskusikan sasaran-sasaran spesifik dan tingkah laku apa yang ingin diubah. Intinya dalam hal ini konselor melakukakan eksplorasi dan melakukan ”diagnosis” apa masalah dan hasil seperti apa yang diharapkan dari konseling.
π Memfasilitasi
Perubahan Terapeutis
Dalam
tahap ini konselor mencarinstrategi dan intervensi yang dapat memudahkan
terjadinya perubahan. Sasaran dan strategi terutama ditentukan oleh sifat
masalah, gaya dan pendekatan konseling yang konselor anut, keinginan klien
maupun gaya komunikasinya. Konselor dalam tahap ini memikirkan alternatif,
melakukan evaluasi dan kemungkinan konsekuensi dari berbagai alternatif,
rencana tindakan. Hal ini tentunya bekerjasama dengan klien. Jadi konselor
bukan tempat pembuat alternatif, pembuat keputusan namun lebih kepada
memfasilitasi, memberikan wacana-wacana baru bagi pemecahan masalah kliennya.
π Evaluasi
dan Terminasi
Dalam
tahap ini konselor bersama klien mengevaluasi terhadap hasil konseling yang
telah dilakukan. Indikatornya adalah sampai sejauh mana sasaran tercapai,
apakah proses konseling membantu klien atau tidak. Tahap ini ditutup dengan
terminasi. Dalam terminasi konselor bersama klien menyimpulkan semua kegiatan
yang sudah dilalui dalam proses konseling. Selain itu konselor dapat membuat
kemungkinan tindak lanjut terjadinya proses konseling kembali ataupun memberikan
kemungkinan referal pada pihak lain yang lebih ahli yang berkaitan dengan
masalah klien.
MICRO SKILL (KETERAMPILAN)
Keterampilan Mikro konseling adalah keterampilan – keterampilan khusus yang harus di kuasai oleh seorang konselor, karena jika digunakan secara tepat dapat sangat meningkatkan kualitas dan keefektifan dari proses konseling.
π Client Observation Skill
Keterampilan konselor untuk mengamati klien, utamanya
dapat menemukan ketidaksinkronan antara gesture dan percakapan.
Misal : Observasi di nada suara, sikap tubuh, gerak-gerik, tutur bahasa, suasana hati, dan perilaku berbeda.
π Attending Behaviour
Disebut juga perilaku menghampiri klien mencakup komponen kontak mata, bahasa badan, bahasa lisan, mendengarkan. Attending yang baik dapat meningkatkan harga diri klien (merasa diterima dan dihargai), awal dan proses komunikasi, menciptakan suasana aman, mempermudah ekspresi perasaan klien secara bebas.
π Questioning
Open Questioning :
- Pertanyaan yang menuntut jawaban secara terbuka oleh klien.
- Konselor perlu menggunakan pertanyaan terbuka jika menghadapi klien yang tertutup atau diam.
- Kata awal yang mungkin membuka pertanyaan adalah : Mengapa, dapatkah, bolehkah, bagaimana, dll.
Teknik bertanya untuk membuka pertanyaan bertujuan agar konselor trampil menggunakan pertanyaan yang memungkinkan munculnya pernyataan-pernyataan baru, memulai pembicaraan, meminta penjelasan lebih lanjut, memberikan contoh dan memusatkan perhatian kepada klien.
Close Questioning :
Merupakan jawaban pasti dan biasanya bersifat faktual (biasanya jawaban ya atau tidak). Contoh : “ Apakah anda merasa berhasil atau tidak disekolah ini?”
π Clarifying
Mengajukan
pertanyaan sampai diperoleh gambaran yang jelas.
π Paraphrasing
Menyampaikan
dengan kata-kata sendiri apa yang ditangkapnya dari pesan yang disampaikan oleh
klien.
π Reflection
Mengekspresikan
kembali perasaan, pikiran, sikap dan pengalaman klien dalam usaha untuk
membangun hubungan.
π Kemampuan
Empati
Bertujuan untuk menempatkan diri dalam pikiran dan perasaan orang lain (internal frame of preference), seolah-olah mampu merasakan dan memahami keadaan emosionalnya.
Tahap Empati
Primary Empathy :
- “Kelihatannya anda cemas sekali...”
- “Tampaknya ryan sedih sekali ya...”
- “Saya dapat merasakan anda sangat bingung saat ini...”
Advanced Accurate Empathy :
- “Seandainya saya jadi Geby... Sayapun akan merasakan sedih-bingung-marah atas apa yang terjadi...”
π Encouragement
Upaya utama konselor adalah agar konseli selalu
terlibat dalam pembicaraan dan dirinya terbuka, sehingga pembicaraan mencapai
tujuan. Dorongan minimal adalah
suatu dorongan langsung yang singkat terhadap apa yang telah dikatakan konseli.
Respon yang diberikan konselor sesedikit mungkin dengan tujuan memberikan
kesempatan kepada konseli berbicara lanjut. Misalnya dengan mengatakan terus, lalu, ya dan hm, dapat juga dengan isyarat anggukan.., dll.
π Confrontation
Dilakukan ketika konselor menemukan pesan yang tidak
kongruen antara pikiran, perasaan dan perilaku. Bertujuan untuk meningkatkan self-awareness klien. Contoh : “Tadi
anda bilang kalau tidak suka dengan sepupu anda tapi anda masih juga sering
keluar dan minta ditraktir makan dengannya”
π Focusing
Fokus membantu klien untuk memusatkan perhatian pada
pokok pembicaraan, ada beberapa fokus yang dapat dilakukan oleh konselor.
Konselor yang efektif harus harus mampu membuat fokus melalui perhatiannya yang
terseleksi terhadap pembicaraan dengan klien. Fokus akan membantu klien untuk
memusatkan perhatiannya pada pokok pembicaraan. Misalnya dengan mengatakan :
“Apakah tidak sebaiknya jika pokok pembicaraan kita berkisar dulu soal hubungan
anda dengan orang tua yang kurang harmonis”
π Influencing
Keterampilan Konselor untuk mempengaruhi klien dalam
proses mengambil keputusan yang lebih adaptif.
π Leading
Peranan konselor untuk mengarahkan pemikiran atau
mendorong klien kedalam ucapan konselor (Charness:1949). Nilai dari leading
adalah supaya konselor menahan atau mendelegasikan sejumlah tanggung jawab
untuk membicarakan konselor-klien dan untuk lebih membangkitkan respon klien.
π Giving Information
Informasi yang dapat membantu klien, misalnya
ketersediaan social support, community support, aktivitas-aktivitas, dll.
Bertujuan menjadi sumber pertimbangan bagi klien untuk memilih alternatif
penyelesaian masalah atau perilaku (tetap yang mengambil keputusan adalah
klien).
π Penggunaan Humor
Humor dapat membantu menghidupkan percakapan. Pastikan
humor tidak bersifat kasar atau menghina. Humor disesuaikan dengan konteks dan
kebutuhan (tidak “garing”).
π Summarize/menyimpulkan
Keterampilan ini mirip dengan paraphrasing namun
intensitasnya lebih jarang (biasanya) pernyataannya lebih panjang. Bertujuan
untuk merangkum apa yang disampaikan oleh klien dan meyimpulkan isi sesi
konseling. Dapat dilakukan diakhir sesi konseling.
Sekian review dari saya, Semoga Bermanfaat untuk kalian semua


Komentar
Posting Komentar