PENDEKATAN-PENDEKATAN DALAM KONSELING

 



Hallo...

Bertemu lagi dengan saya, dikesempatan kali ini saya akan mereview materi tentang pendekatan dalam konseling😊


Simak yaa!!!


PENDEKATAN BEHAVIORAL

Pendekatan behavioral adalah penerapan berbagai macam teknik yang berpedoman pada teori belajar. Konseling semacam ini menyertakan penerapan yang sistematis prinsip-prinsip belajar yang mengubah perilaku kearah cita-cita yang adaptif. Pendekatan behavioral tidak menjelaskan asumsi filosofis tertentu tentang manusia secara langsung. Semua orang dipandang memiliki kecenderungan positif dan kecenderungan negative yang sama. Manusia pada dasarnya dibentuk dan ditentukan oleh lingkungan sosial budaya. Pada kegiatan konseling behavioral tidak ada suatu teknik konseling yang selalau harus digunakan, akan tetapi teknik yang dirasa kurang baik dihilangkan dan diganti dengan teknik yang baru. Pada pendekatan behavioral dikenal reinforcement dan punishment. Tingkah laku adaptif yang tampak diberi penguatan (reinforcement) yaitu memberikan penguatan yang menyenangkan setelah tingkah laku yang diinginkan ditampilkan bertujuan agar tingkah laku itu cenderung akan diulangi, meningkat, dan menetap di masa akan datang. Sementara tingkah laku maldaptif akan diberikan punishment yang bertujuan agar tingkah laku tersebut tidak terulang di masa akan datang.

TUJUAN : Menurut Corey (1986) tujuan pendekatan behavioristik adalah sebagai refleksi masalah konseli, dasar pemilihan dan penggunaan strategi konseling dan sebagai kerangka untuk menilai hasil konseling.

TEKNIK-TEKNIK KONSELING DALAM PENDEKATAN BEHAVIORAL 

       πŸ’™ Latihan Asertif

   Teknik ini digunakan untuk melatih klien yang mengalami kesulitan untuk menyatakan diri bahwa tindakannya adalah layak atau benar. Latihan ini berguna untuk membantu individu yang tidak mampu mengungkapkan perasaan tersinggung, kesulitan menyatakan tidak, mengungkapkan afeksi dan respon posistif lainnya. Cara yang digunakan adalah dengan permainan peran dengan bimbingan konselor. Diskusi-diskusi kelompok juga dapat diterapkan dalam latihan asertif.

       πŸ’™ Desensitisasi Sistematis

     Desensitisasi sistematis merupakan teknik konseling behavioral yang memfokuskan bantuan untuk menenangkan klien dari ketegangan yang dialami dengan cara mengajarkan klien untuk rileks. Esensi teknik ini adalah menghilangkan tingkah laku yang diperkuat secara negatif dan menyertakan respon yang berlawanan dengan tingkah laku yang akan dihilangkan. Dengan pengkondisian klasik respon-respon yang tidak dikehendaki dapat dihilangkan secara bertahap. Jadi desensitisasi sistematis hakikatnya merupakan teknik relaksi yang digunakan untuk menghapus tingkah laku yang diperkuat secara negatif biasanya merupakan kecemasan, dan ia menyertakan respon yang berlawanan dengan tingkah laku yang akan dihilangkan. 

      πŸ’™ Pengkondisian Aversi

   Teknik ini dapat digunakan untuk menghilangkan kebiasaan buruk. Teknik ini dimaksudkan untuk meningkatkan kepekaan klien agar mengamati respon pada stimulus yang disenanginya dengan kebalikan stimulus tersebut. Stimulus yang tidak menyenangkan yang disajikan tersebut diberikan secara bersamaan dengan munculnya tingkah laku yang tidak dikehendaki kemunculannya. Pengkondisian ini diharapkan terbentuk asosiasi antara tingkah laku yang tidak dikehendaki dengan stimulus yang tidak menyenangkan.

     πŸ’™ Pembentukan Tingkah Laku Model

    Teknik ini dapat digunakan untuk membentuk tingkah laku baru pada klien, dan memperkuat tingkah laku yang sudah terbentuk. Dalam hal ini konselor menunjukkan kepada klien tentang tingkah laku model, dapat menggunakan model audio, model fisik, model hidup atau lainnya yang teramati dan dipahami jenis tingkah laku yang hendak dicontoh. Tingkah laku yang berhasil dicontoh memperoleh ganjaran dari konselor. Ganjaran dapat berupa pujian sebagai ganjaran sosial.


PENDEKATAN PSIKOANALITIK

Menurut pandangan psikoanalitik, struktur kepribadian terdiri dan tiga system id, eg, dan superego. Id adalah system kepribadian yang orisinil; kepribadian setiap orang hanya terdiri dari id ketika dilahirkan. Id kurang terorganisasi, buta, menuntut, dan mendesak. Id bersifat tidak logis, amoral, dan di dorong oleh satu kepentingan : memuaskan kebutuhan – kebutuhan naluriah sesuai dengan asas kesenangan. Ego adalah tempat bersemayam intelegensi dan rasionalitas yang mengawasi dan mengendalikan implus –implus buta dari id. Superego adalah kode moral individu yang urusan utamanya adalah apakah suatu tindakan baik atau buruk , benar atau salah.
Ada lima teknik dasar dari konseling psikoanalisis yaitu :

πŸ’™ Asosiasi bebas

Yaitu klien diupayakan untuk menjernihkan atau menikis alam pikirannya dari alam pengalaman dan pemikiran sehari – hari sekarang ini, sehingga klien mudah mengungkapkan pengalaman masa lalunya.

πŸ’™ Interpretasi

Adalah teknik yang digunakan oleh konselor untuk menganalisis asosiasi bebas, mimpi, resistensi, dan transferensi klien. Konselor menetapkan, menjelaskan, dan bahkan mengaajar klien tentang makna perilaku yang termanifestasi dalam mimpi , asosiasi bebas, resistensi, dan transferensi klien.

πŸ’™ Analisis Mimpi

Yaitu suatu teknik untuk membuka hal –hal yang tak disadari dan member kesempatan klien untuk menilik masalah – masalah yang belum terpecahkan. Proses terjadinya mimpi adalah karena diwaktu tidur pertahanan ego menjadi lemah dan kompleks yang terdesakpun muncul ke permukaan.

πŸ’™ Analisis Resistensi

Analisis resistensi ditunjukan untuk menyadarkan klien terhadap alasan – alasan terjadinya resistensinya. Konselor meminta perhatian klien untuk menafsirkan resistensi. Penafsiran analisis atas resistensi ditujukan untuk membantu klien agar menyadari alasan – alasan yang ada di balik resistensi sehingga dia bisa menanganinya.

πŸ’™ Analisis Transfensi

Analisis tranferensi adalah teknik yang utama dalam psikoanalisis sebab mendorong klien untuk menghidupkan kembali masa lampaunya dalam terapi. Ia memungkinkan klien mampu memperoleh pemahaman atas sifat dari fiksasi – fiksasi dan deprivasi – deprivasinya, dan menyajikan pemahaman tentang pegaruh masa lampau terhadap kehidupannya sekarang.


PENDEKATAN EKSISTENSIAL HUMANISTIK

Psikologi eksistensial humanistik berfokus pada kondisi manusia. Pendekatan ini terutama adalah suatu sikap yang menekankan pada pemahaman atas manusia alih-alih suatu system teknik yang digunakan untuk mempengaruhi klien.

TUJUAN : Konseling eksistensial humanistik bertujuan agar klien mengalami keberadaannya secara otentik dengan menjadi sadar atas keberadaan dan potensi- potensi serta sadar bahwa ia dapat membuka diri dan bertindak sesuai kemampuannya.

LANGKAH YANG DILAKUKAN DALAM KONSELING EKSISTENSIAL HUMANISTIK

πŸ’™ Tahap pendahuluan, klien mengklarifikasi asumsinya terhadap dunia dan pengalamannya yang dibantu oleh konselor. Klien dituntun dalam mendefinisikan dan menanyakan tentang cara mereka memandang dan menjadikan eksistensi mereka bisa diterima

πŸ’™ Tahap pertengahan, klien memaparkan lebih lanjut tentang nilai yang mereka anut dalam berperilaku dan menjalani hidup mereka

πŸ’™ Tahap pengakhiran, konseling berfokus pada menolong konseli untuk bisa melaksanakan apa yang telah mereka pelajari tentang diri mereka sendiri.


PENDEKATAN CLIENT-CENTERED

Terapi model ini dikembangkan pertama kali oleh Carl Rogers dengan sebutan Client Centered Therapy (Meador dan Rogers, 1973) yaitu suatu metode perawatan psikis yang dilakukan dengan cara berdialog antara konselor dengan klien agar tercapai gambaran yang serasi antara ideal self (diri klien  yang ideal) dengan actual self (diri klien sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya). Pendekatan client centered difokuskan pada tanggung jawab dan kesanggupan klien untuk menemukan cara menghadapi kenyataan secara lebih penuh. Klien sebagai orang yang paling mengetahui dirinya adalah orang yang harus menemukan tingkah laku yang lebih pantas bagi dirinya. Pendekatan konseling client centered menekankan pada kecakapan klien untuk menentukan isu yang penting bagi dirinya dan pemecahan masalah dirinya. Konsep pokok yang mendasari adalah hal yang menyangkut konsep-konsep mengenai diri (self), aktualisasi diri, teori kepribadian, dan hakekat kecemasan.

TEKNIK KONSELING CLIENT CENTERED

Teknik yang dianggap tepat untuk diterapkan dalam pendekatan ini yaitu teknik client centered counseling, sebagaimana dikembangkan oleh Carl R. Rogers. meliputi: 

πŸ’™     Acceptance (penerimaan)

πŸ’™      Respect (rasa hormat)

πŸ’™       Understanding (pemahaman)

πŸ’™      Reassurance (menentramkan hati)

πŸ’™      Encouragement (memberi dorongan)

πŸ’™       Limited questioning (pertanyaan terbatas dan

πŸ’™      Reflection (memantulkan pernyataan dan perasaan).

TAHAPAN DALAM KONSELING TERAPI CLIENT CENTERED

πŸ’™ Klien datang kepada konselor atas kemauan sendiri. Apabila klien datang atas suruhan orang lain , maka konselor harus mampu menciptakan situasi yang sangat bebas dengan tujuan agar klien memilih apakah ia akan terus meminta bantuan atau akan membatalkannya.

πŸ’™Situasi konseling sejak awal harus menjadi tanggung jawab klien, unuk itu konselor menyadarkan klien

πŸ’™Konselor memberanikan klien agar ia mampu mengemukakan perasaannya. Konselor harus bersikap ramah, bersahabat, dan menerima klien sebagaimana adanya

πŸ’™  Konselor menerima perasaan klien serta memahaminya

πŸ’™ Konselor berusaha agar klien dapat memahami dan menerima keadaan dirinya

πŸ’™  Klien menentukan pilihan sikap dan tindakan yang akan diambil

πŸ’™  Klien merealisasikan pilihannya itu.


PENDEKATAN GESTALT

Pendekatan Gestalt adalah terapi humanistik eksistensial yang berlandaskan premis, bahwa individu harus menemukan caranya sendiri dalam hidup dan menerima tanggung jawab pribadi jika individu ingin mencapai kedewasaan. Asumsi ini didasarkan pada bahwa manusia dalam kehidupannya selalu aktif sebagai suatu keseluruhan.Setiap individu bukan semata-mata merupakan penjumlahan dari bagian-bagian organ-organ seperti hati, jantung, otak, dan sebagainya, melainkanmerupakansuatukoordinasi semua bagian tersebut. Manusia aktif terdorong kearah keseluruhan dan integrasi pemikiran, perasaan, dan tingkah lakunya.

Levitsky dan Pearls( 1970, hlm.144-149) menyajikan suatu uraian ringkasan tentang sejumlah permainan yang biasa digunakan dalam terapi Gestalt yang mencakup :

πŸ’™ Permainan Dialog
Terapis Gestalt menaruh pehatian yang besar pada pemisahan dalam fungsi kepribadian. Yang paling utama adalah pemisah antara “top dg” dengan “under dog”. Top dog itu adil, otoriter, moralistic, menuntut, berlaku sebagai majikan,dan manipulative. Sedangkan underdog memanipulasi dengan memainkan peran sebagai korban, defensive, membela diri, tak berdaya, lemah dan ingin dimaklumi.dialvg antara dua kecenderungan yang berlawanan memiliki sasaran meningkatkan taraf integrasi polaritas – polaritas dan konflik – konflik yang ada pada diri seseorang ke taraf yang lebih tinggi. Dengan sasaran itu terapis tidak bermaksud memisahkan klien dari sifat – sifat tertentu, tetapi mendorong klien agar belajar menerima.

πŸ’™ Bermain Proyeksi
Dalam bermain proyeksi terapis meminta kepada klien yang mengatakan “saya tidak bisa mempercayaimu” untuk memainkan peran sebagai orang yang tidak bisa menaruh kepercayaan guna menyikapi sejauh mana ketidakpercayaan itu menjadi konflik dalam dirinya. Dengan kata lain, terapis meminta klien untuk “mencobakan” pertanyaan – pertanyaan tertentu yang ditujukn kepada orang lain dalam kelompok.

πŸ’™ Teknik pembalikan
Ilustrasi dari teknik pembalikan ini adalah kasus seorang wanita yang diminta untuk menjadi seorang yang jahat. Terapis meminta kepada klien untuk berkeliling untuk mendatangi semua orang dalam kelompoknya dan memberikan kutukan, menunjukan niat jahat, dan mengatakan sesuatu yang ditakuti mereka. Dia menimbun kebencian dan dendam sebagai hasil dari sampingan represinya. Ketika ia didorong untuk mengungkapkan sisi buruknya yang belum pernah dilakukannya,hasilnya cukup dramatis. Klien secara intens merasakan sisi yang diingkarinya dan lambat laun dapat mengintegrasikan sisi tersebut ke dalam kepribadiannya.


πŸ’™ Permainan ulangan
Para anggota kelompok terapi melakukan permainan berbagi pengulangan satu sama lain dalam upaya meningkatkan kesadaran atas pengulangan yang dilakukan oleh mereka dalam memenuhi tuntutan memainkan peran – peran sosial. Mereka menjadi lebih sadar betapa mereka selalu mencoba memenuhi pengharapan – pengharapan orang lain, sadar seberapa besar derajat keinginan mereka untuk disetujui, diterima, dan disukai , serta sejauh mana mereka berusaha memperoleh penerimaan.


πŸ’™ Permainan melebih – lebihkan
Permainan ini berhubungan dengan konsep peningkatan kesadaran atas tanda – tanda dan isyarat – isyarat halus yang dikirimkan oleh seseorang melalui bahasa tubuh, gerakan –gerakan, sikap badan , mimic muka bisa mengkmunikasikan makna – makna yang penting, begitu pula isyarat – isyarat yang tidak lengkap. Klien diminta untuk melebih – lebihkan gerakan – gerakan atau mimic muka secara berulang – ulang yang biasanya mengintensifkan perasaan yang berpaut pada tingkah laku dan membuat makna bagian dalam menjadi lebih jelas.

πŸ’™ Tetap dengan perasaan

Teknik ini bisa digunakan pada saat klien menunjuk pada perasaan atau suasana hati yang tidak menyenangkan yang sangat ingin dia menghindarinya. Terapis mendesak klien untuk tetap dengan atau menahan perasaannya yang ia ingin hindari itu. Kebanyakan klien melarikan diri dari stimulus yang menakutkan dan menghindari perasaan – perasaan yang tidak menyenagkn. Terapis bisa meminta klien untuk bertahan dengan ketakutan atau kesakitan apapun yang dialaminya sekarang dan mendorong klien untuk menyelam lebih dalam perasaan dan tingkah laku yang ingin dihindarinya.

TUJUAN : 
Tujuan pendekatan konseling Gestalt adalah membantu klien agar dapat menemukan pusat dirinya, pencapaian kesadaran dan membantu klien agar berani menghadapi berbagai macam tantangan dalam menghadapi kenyataan agar klien dapat meningkatkan pertumbuhan menghadapi kenyataan dan mengembangkan potensi manusiawinya.

FASE-FASE DALAM PROSES KONSELING DENGAN PENDEKATAN GESTALT

πŸ’™ Fase Pertama
Fase pertama, konselor mengem- bangkan pertemuan konseling, agar tercapai situasi yang memungkinkan perubahan-perubahanyangdiharapkan pada konseli. Pola hubungan yang diciptakan untuk setiap konseli berbeda, karena masing-masing konseli mempunyai keunikan sebagai individu serta memiliki kebutuhan yang bergantung kepada masalah yang harus dipecahkan.

πŸ’™ Fase Kedua
Fase kedua, konselor berusaha meyakinkan dan mengkondisikan konseli untuk mengikuti prosedur yang telah ditetapkan sesuai dengan kondisi konseli. Ada dua hal yang dilakukan konselor dalam fase ini, yaitu : Membangkitkan motivasi konseli dan membangkitkan dan mengembangkan otonomi konseli dan menekankan kepada konseli bahwa konseli boleh menolak saran-saran konselor asal dapat mengemukakan alasan-alasannya secara bertanggung jawab.

πŸ’™ Fase Ketiga
Fase ketiga, konselor mendorong konseli untuk mengatakan perasaan- perasaannya pada saat ini, konseli diberi kesempatan untuk mengalami kembali segala perasaan dan perbuatan pada masa lalu, dalam situasi di sini dan saat ini. Kadang-kadang konseli diperbolehkan memproyeksikan dirinya kepada konselor.Melalui fase ini, konselor berusaha menemukan celah-celah kepribadian atau aspek- aspek kepribadian yang hilang, dari sini dapat diidentifikasi apa yang harus dilakukan klien.

πŸ’™ Fase Keempat
Fase keempat, setelah konseli memperoleh pemahaman dan penyadaran tentang pikiran, perasaan, dan tingkah lakunya, konselor mengantarkan konseli memasuki fase akhir konseling.Pada fase ini konseli menunjukkan gejala-gejala yang mengindikasikan integritas kepribadiannya sebagai individu yang unik dan  manusiawi.

PENDEKATAN RATOINAL EMOTIF THERAPY (RET)

RET dikembangkan oleh seorang eksistensialis Albert Ellis pada tahun 1962. Sebagaimana diketahui aliran ini dilatarbelakangi oleh filsafat eksistensialisme yang berusaha memahami manusia sebagimana adanya. RET menolak pandangan aliran psikoanalisis berpandangan bahwa peristiwa dan pengalaman individu menyebabkan terjadinya gangguan emosional. Meurut Ellis bukanlah pengalaman atau peristiwa eksternal yang menimbulkan emosiomnal, akan tetapi tergantung kepada pengertian yang diberikan terhadap peristiwa atau pengalaman itu. Gangguan emosi terjadi disebabkan pikiran – pikiran seseorang yang bersifatirrasional tehadap peristiwa dan pengalaman yang dilaluinya. RET bertujuan untuk memperbaiki dan mengubah sikap , persepsi, cara berpikir, keyakinan, serta pandangan klien yang irrasional menjadi rasional sehingga ia dapat mengembangkan diri dan mencapai realisasi diri yang optimal. 

Berikut ini adalah beberapa teknik konseling RET dapat diikuti, antara lain adalah teknik yang berusaha menghilangkan gangguan emosional yang merusak diri yang terdiri atas :
πŸ’™ Assertive training. Yaitu melatih dan membiasakan klien terus menerus menyesuaikan diri     dengan perilaku tertentu yang diinginkan.
πŸ’™ Sosiodrama. Yaitu semacam sandiwara pendek tentang masalah kehidupan sosial.
πŸ’™ Self modeling. Yaitu teknik yang bertujuan menghilangkan perilaku tertentu, dimana                 konselor menjadi model, dank lien berjanji akan mengikuti.
πŸ’™ Social modeling. Yaitu membentuk perilaku baru melalui model sosial dengan cara imitasi,      observasi
πŸ’™ Teknik reinforcement. Yaitu memberi reward terhadap perilaku rasional atau                             memperkuatnya
πŸ’™ Desensitisasi sistematik
πŸ’™ Relaxation
πŸ’™ Self control. Yaitu dengan mengontrol diri
πŸ’™ Diskusi
πŸ’™ Simulasi, dengan bermain peran atara konselor dengan klien
πŸ’™ Homework assignment
πŸ’™ Bibliografi


PENDEKATAN REALITAS

Secara umum tujuan dari konseling realitas adalah mencapai identitas keberhasilan dengan cara individu mampu memikul tanggung jawab, yaitu kemampuan untuk mencapai kepuasan terhadap kebutuhan dasarnya. Singkatnya adalah ketika individu telah mampu memuaskan kebutuhan dasarnya, maka di saat yang bersamaan ia telah bertanggung jawab bagi dirinya sendiri.

TUJUAN : Secara umum tujuan dari konseling realitas adalah mencapai identitas keberhasilan dengan cara individu mampu memikul tanggung jawab, yaitu kemampuan untuk mencapai kepuasan terhadap kebutuhan dasarnya. Singkatnya adalah ketika individu telah mampu memuaskan kebutuhan dasarnya, maka di saat yang bersamaan ia telah bertanggung jawab bagi dirinya sendiri.

TEKNIK KONSELING REALITAS
Dalam membantu klien untuk menciptakan identitas keberhasilan, terapis bisa menggunakan beberapa teknik sebagai berikut :

πŸ’™ Terlibat dalam permaina peran dengan klien

πŸ’™ Menggunakan humor

πŸ’™ Mengonfrontasikan klien dan menolak dalih apapun

πŸ’™ Membantu klien dalam merumuskan rencana – rencana yang spesifik bagi tindakan

πŸ’™ Bertindak sebagai model dan guru

πŸ’™ Memasang batas – batas dan menyusun situasi terapi

πŸ’™ Melibatkan diri dengan klien dalam upaya mencari kehidupan yang lebih efektif.


PENDEKATAN ANALISIS TRANSAKSIONAL

Analisis Transaksional adalah psikoterapi transaksional yang dapat digunakan dalam konseling individual, tetapi lebih cocok untuk digunakan dalam konseling kelompok. AT memekankan aspek kognitif rasional behavioral dan berorientasi kepada peningkatan kesadaran sehingga konseli akan mampu membuat keputusan baru dan mengubah cara hidupnya. Tujuan dasar AT adalah membantu klien dalam membuat keputusan baru yang menyangkut tingkah lakunya sekarang dan arah hidupnya. Sasarannya adalah mendorong klien agar menyadari bahwa kebebasan dirinya dalam memilih telah dibatasi oleh putusan-putusan dini mengenai posisi hidupnya dan oleh permainan yang manipulative dan oleh scenario hidup yang mengalahkan diri, dengan gaya hidup otonom yang ditandai dengan kesadaran, spontanitas, dan keakraban.

TEKNIK DASAR KONSELING ANALISIS TRANSAKSIONAL

πŸ’™ Analisis Struktural

Analisis structural adalah alat yang bisa membantu klien agar menjadi sadar atas isi dan fungsi ego orang tua, ego orang dewasa, dan ego anaknya. Para klien AT belajar bagaimana mengenali ketiga perwakilan egonya itu. Analisis structural membantu klien dalam megubah pola yang dirasakan menghambat dan membantu klien agar menemukan perwakilan ego yang mana yang menjadi landasan tingkah yang mana menjadi landasan tingkah lakunya.

πŸ’™  Permainan peran

Dalam terapi kelompok, situasi permainan peran bisa melibatkan para anggta lain. Seorang anggota kelompok memainkan peran sebagai perwakilan ego yang menjadi sumber masalahbbagi anggota lainnya. Bentuk permainan lainnya adalah permainan yang menonjolkan gaya khas dari ego orang tua yang konstan, ego orang dewasa yang konstan, dan ego anak yang konstan, atau permainan tertentu agar memungkinkan klien memperoleh umpan balik tentang tingkah laku sekarang dalam kelompok

πŸ’™ Percontohan keluarga

Klien diminta untuk membayangkan suatu adegan yang melibatkan sebanyak mungkin orang yang berpengaruh dimasa lampau, termasuk dirinya sendiri. Dia menetapkan situasi dan menggunakan para anggota kelompok sebagai pemeran para anggota keluarga yang dibayangkannya. Diskusi, tindakan, dan evaluasi selanjutnya bisa mempertinggi kesadran tentang suatu situasi yang spesifik dan makna-makna pribadi yang berlaku pada klien.

πŸ’™  Analisis scenario

Pembuatan scenario mula-mula terjadi secara nonverbal pada masa kanak-kanak melalui pesan-pesan dari orang tua. Selama tahun-tahun pertama perkembangannya, seseorang belajar tentang nilai dirinya sebagai pribadi dan tempat dirinya dalam kehidupan. Selanjutnya, pembentukan skenario berjalan melalui cara-cara langsung maupun tidak langsung.





Sekian review dari saya, Semoga bermanfaat untuk kalian semua😊

TerimakasihπŸ’œ


Komentar