PENDEKATAN-PENDEKATAN DALAM KONSELING
Bertemu lagi dengan saya, dikesempatan kali ini saya akan mereview materi tentang pendekatan dalam konselingπ
Simak yaa!!!
PENDEKATAN BEHAVIORAL
Pendekatan behavioral adalah penerapan berbagai macam teknik yang berpedoman pada teori belajar. Konseling semacam ini menyertakan penerapan yang sistematis prinsip-prinsip belajar yang mengubah perilaku kearah cita-cita yang adaptif. Pendekatan behavioral tidak menjelaskan asumsi filosofis tertentu tentang manusia secara langsung. Semua orang dipandang memiliki kecenderungan positif dan kecenderungan negative yang sama. Manusia pada dasarnya dibentuk dan ditentukan oleh lingkungan sosial budaya. Pada kegiatan konseling behavioral tidak ada suatu teknik konseling yang selalau harus digunakan, akan tetapi teknik yang dirasa kurang baik dihilangkan dan diganti dengan teknik yang baru. Pada pendekatan behavioral dikenal reinforcement dan punishment. Tingkah laku adaptif yang tampak diberi penguatan (reinforcement) yaitu memberikan penguatan yang menyenangkan setelah tingkah laku yang diinginkan ditampilkan bertujuan agar tingkah laku itu cenderung akan diulangi, meningkat, dan menetap di masa akan datang. Sementara tingkah laku maldaptif akan diberikan punishment yang bertujuan agar tingkah laku tersebut tidak terulang di masa akan datang.
TUJUAN : Menurut Corey (1986) tujuan pendekatan behavioristik adalah sebagai refleksi masalah konseli, dasar pemilihan dan penggunaan strategi konseling dan sebagai kerangka untuk menilai hasil konseling.
TEKNIK-TEKNIK KONSELING DALAM PENDEKATAN BEHAVIORAL
π Latihan Asertif
Teknik ini digunakan untuk melatih klien yang mengalami kesulitan untuk menyatakan diri bahwa tindakannya adalah layak atau benar. Latihan ini berguna untuk membantu individu yang tidak mampu mengungkapkan perasaan tersinggung, kesulitan menyatakan tidak, mengungkapkan afeksi dan respon posistif lainnya. Cara yang digunakan adalah dengan permainan peran dengan bimbingan konselor. Diskusi-diskusi kelompok juga dapat diterapkan dalam latihan asertif.
π Desensitisasi Sistematis
Desensitisasi sistematis merupakan teknik konseling behavioral yang memfokuskan bantuan untuk menenangkan klien dari ketegangan yang dialami dengan cara mengajarkan klien untuk rileks. Esensi teknik ini adalah menghilangkan tingkah laku yang diperkuat secara negatif dan menyertakan respon yang berlawanan dengan tingkah laku yang akan dihilangkan. Dengan pengkondisian klasik respon-respon yang tidak dikehendaki dapat dihilangkan secara bertahap. Jadi desensitisasi sistematis hakikatnya merupakan teknik relaksi yang digunakan untuk menghapus tingkah laku yang diperkuat secara negatif biasanya merupakan kecemasan, dan ia menyertakan respon yang berlawanan dengan tingkah laku yang akan dihilangkan.
π Pengkondisian Aversi
Teknik ini dapat digunakan untuk menghilangkan kebiasaan buruk. Teknik ini dimaksudkan untuk meningkatkan kepekaan klien agar mengamati respon pada stimulus yang disenanginya dengan kebalikan stimulus tersebut. Stimulus yang tidak menyenangkan yang disajikan tersebut diberikan secara bersamaan dengan munculnya tingkah laku yang tidak dikehendaki kemunculannya. Pengkondisian ini diharapkan terbentuk asosiasi antara tingkah laku yang tidak dikehendaki dengan stimulus yang tidak menyenangkan.
π Pembentukan Tingkah Laku Model
Teknik ini dapat digunakan untuk membentuk tingkah laku baru pada klien, dan memperkuat tingkah laku yang sudah terbentuk. Dalam hal ini konselor menunjukkan kepada klien tentang tingkah laku model, dapat menggunakan model audio, model fisik, model hidup atau lainnya yang teramati dan dipahami jenis tingkah laku yang hendak dicontoh. Tingkah laku yang berhasil dicontoh memperoleh ganjaran dari konselor. Ganjaran dapat berupa pujian sebagai ganjaran sosial.
PENDEKATAN PSIKOANALITIK
Menurut pandangan psikoanalitik, struktur
kepribadian terdiri dan tiga system id, eg, dan superego. Id adalah system
kepribadian yang orisinil; kepribadian setiap orang hanya terdiri dari id
ketika dilahirkan. Id kurang terorganisasi, buta, menuntut, dan mendesak. Id
bersifat tidak logis, amoral, dan di dorong oleh satu kepentingan : memuaskan
kebutuhan – kebutuhan naluriah sesuai dengan asas kesenangan. Ego adalah tempat
bersemayam intelegensi dan rasionalitas yang mengawasi dan mengendalikan implus
–implus buta dari id. Superego adalah kode moral individu yang urusan utamanya
adalah apakah suatu tindakan baik atau buruk , benar atau salah.
Ada lima teknik dasar dari konseling psikoanalisis yaitu :
π Asosiasi bebas
Yaitu klien diupayakan untuk menjernihkan atau menikis alam pikirannya dari alam pengalaman dan pemikiran sehari – hari sekarang ini, sehingga klien mudah mengungkapkan pengalaman masa lalunya.Analisis
tranferensi adalah teknik yang utama dalam psikoanalisis sebab mendorong klien
untuk menghidupkan kembali masa lampaunya dalam terapi. Ia memungkinkan klien
mampu memperoleh pemahaman atas sifat dari fiksasi – fiksasi dan deprivasi –
deprivasinya, dan menyajikan pemahaman tentang pegaruh masa lampau terhadap
kehidupannya sekarang.
PENDEKATAN EKSISTENSIAL HUMANISTIK
Psikologi eksistensial humanistik berfokus pada kondisi manusia. Pendekatan ini terutama adalah suatu sikap yang menekankan pada pemahaman atas manusia alih-alih suatu system teknik yang digunakan untuk mempengaruhi klien.
TUJUAN : Konseling eksistensial humanistik bertujuan agar klien mengalami keberadaannya secara otentik dengan menjadi sadar atas keberadaan dan potensi- potensi serta sadar bahwa ia dapat membuka diri dan bertindak sesuai kemampuannya.
LANGKAH YANG DILAKUKAN DALAM KONSELING EKSISTENSIAL HUMANISTIK
π Tahap pendahuluan, klien mengklarifikasi asumsinya terhadap dunia dan pengalamannya yang dibantu oleh konselor. Klien dituntun dalam mendefinisikan dan menanyakan tentang cara mereka memandang dan menjadikan eksistensi mereka bisa diterima
π Tahap pertengahan, klien memaparkan lebih lanjut tentang nilai yang mereka anut dalam berperilaku dan menjalani hidup mereka
π Tahap pengakhiran, konseling berfokus pada menolong konseli untuk bisa melaksanakan apa yang telah mereka pelajari tentang diri mereka sendiri.
PENDEKATAN CLIENT-CENTERED
Terapi model ini dikembangkan pertama kali oleh Carl Rogers dengan sebutan Client Centered Therapy (Meador dan Rogers, 1973) yaitu suatu metode perawatan psikis yang dilakukan dengan cara berdialog antara konselor dengan klien agar tercapai gambaran yang serasi antara ideal self (diri klien yang ideal) dengan actual self (diri klien sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya). Pendekatan client centered difokuskan pada tanggung jawab dan kesanggupan klien untuk menemukan cara menghadapi kenyataan secara lebih penuh. Klien sebagai orang yang paling mengetahui dirinya adalah orang yang harus menemukan tingkah laku yang lebih pantas bagi dirinya. Pendekatan konseling client centered menekankan pada kecakapan klien untuk menentukan isu yang penting bagi dirinya dan pemecahan masalah dirinya. Konsep pokok yang mendasari adalah hal yang menyangkut konsep-konsep mengenai diri (self), aktualisasi diri, teori kepribadian, dan hakekat kecemasan.
TEKNIK KONSELING CLIENT CENTERED
Teknik yang dianggap tepat untuk diterapkan dalam pendekatan ini yaitu teknik client centered counseling, sebagaimana dikembangkan oleh Carl R. Rogers. meliputi:
π Acceptance (penerimaan)
π Respect (rasa hormat)
π Understanding (pemahaman)
π Reassurance (menentramkan hati)
π Encouragement (memberi dorongan)
π Limited questioning (pertanyaan terbatas dan
π Reflection (memantulkan pernyataan dan perasaan).
TAHAPAN DALAM KONSELING TERAPI CLIENT CENTERED
π Klien datang kepada konselor atas kemauan sendiri. Apabila klien datang atas suruhan orang lain , maka konselor harus mampu menciptakan situasi yang sangat bebas dengan tujuan agar klien memilih apakah ia akan terus meminta bantuan atau akan membatalkannya.
πSituasi konseling sejak awal harus menjadi tanggung jawab klien, unuk itu konselor menyadarkan klien
πKonselor memberanikan klien agar ia mampu mengemukakan perasaannya. Konselor harus bersikap ramah, bersahabat, dan menerima klien sebagaimana adanya
π Konselor menerima perasaan klien serta memahaminya
π Konselor berusaha agar klien dapat memahami dan menerima keadaan dirinya
π Klien menentukan pilihan sikap dan tindakan yang akan diambil
π Klien merealisasikan pilihannya itu.
PENDEKATAN GESTALT
Pendekatan Gestalt adalah terapi humanistik
eksistensial yang berlandaskan premis, bahwa individu harus menemukan caranya sendiri
dalam hidup dan menerima tanggung jawab pribadi jika individu ingin mencapai kedewasaan.
Asumsi ini didasarkan pada bahwa manusia dalam kehidupannya selalu aktif
sebagai suatu keseluruhan.Setiap individu bukan semata-mata merupakan penjumlahan
dari bagian-bagian organ-organ seperti hati, jantung, otak, dan sebagainya, melainkanmerupakansuatukoordinasi
semua bagian tersebut. Manusia aktif terdorong kearah keseluruhan dan integrasi
pemikiran, perasaan, dan tingkah lakunya.
Levitsky dan Pearls( 1970, hlm.144-149) menyajikan suatu uraian ringkasan tentang sejumlah permainan yang biasa digunakan dalam terapi Gestalt yang mencakup :
π Permainan Dialog
Terapis Gestalt menaruh pehatian yang besar pada pemisahan dalam fungsi
kepribadian. Yang paling utama adalah pemisah antara “top dg” dengan “under
dog”. Top dog itu adil, otoriter, moralistic, menuntut, berlaku sebagai
majikan,dan manipulative. Sedangkan underdog memanipulasi dengan memainkan
peran sebagai korban, defensive, membela diri, tak berdaya, lemah dan ingin dimaklumi.dialvg
antara dua kecenderungan yang berlawanan memiliki sasaran meningkatkan taraf
integrasi polaritas – polaritas dan konflik – konflik yang ada pada diri
seseorang ke taraf yang lebih tinggi. Dengan sasaran itu terapis tidak
bermaksud memisahkan klien dari sifat – sifat tertentu, tetapi mendorong klien
agar belajar menerima.
π Bermain Proyeksi
Dalam bermain proyeksi terapis meminta kepada klien yang mengatakan “saya tidak
bisa mempercayaimu” untuk memainkan peran sebagai orang yang tidak bisa menaruh
kepercayaan guna menyikapi sejauh mana ketidakpercayaan itu menjadi konflik
dalam dirinya. Dengan kata lain, terapis meminta klien untuk “mencobakan”
pertanyaan – pertanyaan tertentu yang ditujukn kepada orang lain dalam
kelompok.
π Teknik pembalikan
Ilustrasi dari teknik pembalikan ini adalah kasus seorang wanita yang diminta
untuk menjadi seorang yang jahat. Terapis meminta kepada klien untuk
berkeliling untuk mendatangi semua orang dalam kelompoknya dan memberikan
kutukan, menunjukan niat jahat, dan mengatakan sesuatu yang ditakuti mereka.
Dia menimbun kebencian dan dendam sebagai hasil dari sampingan represinya.
Ketika ia didorong untuk mengungkapkan sisi buruknya yang belum pernah
dilakukannya,hasilnya cukup dramatis. Klien secara intens merasakan sisi yang
diingkarinya dan lambat laun dapat mengintegrasikan sisi tersebut ke dalam
kepribadiannya.
π Permainan ulangan
Para anggota kelompok terapi melakukan permainan berbagi pengulangan satu sama
lain dalam upaya meningkatkan kesadaran atas pengulangan yang dilakukan oleh
mereka dalam memenuhi tuntutan memainkan peran – peran sosial. Mereka menjadi
lebih sadar betapa mereka selalu mencoba memenuhi pengharapan – pengharapan
orang lain, sadar seberapa besar derajat keinginan mereka untuk disetujui, diterima,
dan disukai , serta sejauh mana mereka berusaha memperoleh penerimaan.
π Permainan melebih – lebihkan
Permainan ini berhubungan dengan konsep peningkatan kesadaran atas tanda –
tanda dan isyarat – isyarat halus yang dikirimkan oleh seseorang melalui bahasa
tubuh, gerakan –gerakan, sikap badan , mimic muka bisa mengkmunikasikan makna –
makna yang penting, begitu pula isyarat – isyarat yang tidak lengkap. Klien
diminta untuk melebih – lebihkan gerakan – gerakan atau mimic muka secara
berulang – ulang yang biasanya mengintensifkan perasaan yang berpaut pada
tingkah laku dan membuat makna bagian dalam menjadi lebih jelas.
π Tetap dengan perasaan
π Assertive training. Yaitu melatih dan membiasakan klien terus menerus menyesuaikan diri dengan perilaku tertentu yang diinginkan.
π Sosiodrama. Yaitu semacam sandiwara pendek tentang masalah kehidupan sosial.
π Self modeling. Yaitu teknik yang bertujuan menghilangkan perilaku tertentu, dimana konselor menjadi model, dank lien berjanji akan mengikuti.
π Social modeling. Yaitu membentuk perilaku baru melalui model sosial dengan cara imitasi, observasi
π Teknik reinforcement. Yaitu memberi reward terhadap perilaku rasional atau memperkuatnya
π Desensitisasi sistematik
π Relaxation
π Self control. Yaitu dengan mengontrol diri
π Diskusi
π Simulasi, dengan bermain peran atara konselor dengan klien
π Homework assignment
π Bibliografi
π Terlibat dalam permaina peran dengan klien
π Menggunakan humor
π Mengonfrontasikan klien dan menolak dalih apapun
π Membantu klien dalam merumuskan rencana – rencana yang spesifik bagi tindakan
π Bertindak sebagai model dan guru
π Memasang batas – batas dan menyusun situasi terapi
π Melibatkan diri dengan klien dalam upaya mencari kehidupan yang lebih
efektif.
PENDEKATAN ANALISIS TRANSAKSIONAL
Analisis Transaksional adalah psikoterapi transaksional yang dapat digunakan dalam konseling individual, tetapi lebih cocok untuk digunakan dalam konseling kelompok. AT memekankan aspek kognitif rasional behavioral dan berorientasi kepada peningkatan kesadaran sehingga konseli akan mampu membuat keputusan baru dan mengubah cara hidupnya. Tujuan dasar AT adalah membantu klien dalam membuat keputusan baru yang menyangkut tingkah lakunya sekarang dan arah hidupnya. Sasarannya adalah mendorong klien agar menyadari bahwa kebebasan dirinya dalam memilih telah dibatasi oleh putusan-putusan dini mengenai posisi hidupnya dan oleh permainan yang manipulative dan oleh scenario hidup yang mengalahkan diri, dengan gaya hidup otonom yang ditandai dengan kesadaran, spontanitas, dan keakraban.
TEKNIK DASAR KONSELING ANALISIS TRANSAKSIONAL
π Analisis Struktural
π Permainan peran
Dalam terapi kelompok, situasi permainan peran bisa melibatkan para anggta lain. Seorang anggota kelompok memainkan peran sebagai perwakilan ego yang menjadi sumber masalahbbagi anggota lainnya. Bentuk permainan lainnya adalah permainan yang menonjolkan gaya khas dari ego orang tua yang konstan, ego orang dewasa yang konstan, dan ego anak yang konstan, atau permainan tertentu agar memungkinkan klien memperoleh umpan balik tentang tingkah laku sekarang dalam kelompok
π Percontohan keluarga
Klien diminta untuk membayangkan suatu adegan yang melibatkan sebanyak mungkin orang yang berpengaruh dimasa lampau, termasuk dirinya sendiri. Dia menetapkan situasi dan menggunakan para anggota kelompok sebagai pemeran para anggota keluarga yang dibayangkannya. Diskusi, tindakan, dan evaluasi selanjutnya bisa mempertinggi kesadran tentang suatu situasi yang spesifik dan makna-makna pribadi yang berlaku pada klien.
π Analisis scenario
Pembuatan scenario mula-mula terjadi secara nonverbal pada masa kanak-kanak melalui pesan-pesan dari orang tua. Selama tahun-tahun pertama perkembangannya, seseorang belajar tentang nilai dirinya sebagai pribadi dan tempat dirinya dalam kehidupan. Selanjutnya, pembentukan skenario berjalan melalui cara-cara langsung maupun tidak langsung.


Komentar
Posting Komentar